“Kau
masih ingat kejadian 2 tahun yang lalu?” perkataan Cody ini membuat
Zia terbengong dan seketika Zia flashback kedua tahun yang lalu.
“Ya
aku ingat. Masih sangat ingat. Kenapa memangnya?” ucap Zia dengan nada
penasaran di tambah kalimat terakhir dengan nada juteknya.
“Malam
itu kau memakai dress merah maroon dengan sepatu high heels merah maroon juga
bukan?” ucap Cody dengan halus dan dia juga membayangkan kejadian 2 tahun yang lalu itu.
Zia
terdiam. Dia tidak menyangka jika Cody masih mengingat kejadian dua tahun yang
lalu itu. Kejadian yang sangat menusuk hati Zia itu terputar lagi di dalam
pikiran Zia.
“Ya
benar. Aku memakai gaun merah maroon ku malam itu. Dan kau… Kau memakai tuxedo
hitam dengan saputangan merah maroon juga di saku bajumu bukan?” kali ini nada
Zia tidak seperti biasanya. Dia sangat ramah pada Cody. Dan Cody pun tersenyum
simpul mendengar perkataan Zia.
“Haha..
Ya kau benar. Kau masih ingat saat aku datang dan kau langsung terjatuh
pingsan?” tanya Cody.
“Hmmm
ya aku ingat. Tapi aku tidak ingat kejadian setelah pingsan..” nada Zia kembali
seperti biasanya.
“Haha..
Yeah I know Zia.. saat itukan kau sudah pingsan mana mungkin kau ingat kejadian
saat aku menggotongmu ke UGD. Dan aku menemanimu selama 2 jam disana. Aku
sangat khawatir denganmu Zia. Wajahmu pucat, badanmu juga dingin sekali waktu
itu. Sedingin sikapmu padaku saat ini…” ucap Cody dengan nada mengingat
kejadian itu dan juga mengungkapkan perasaannya kepada Zia.
Zia
terbengong. Dia tak menyangka bahwa Cody masih ingat kejadian 2 tahun yang lalu
itu. Dan dia merasa sangat bahagia saat Cody mengantarnya ke rumah sakit dan
menemani Zia selama 2 jam. Tetapi Zia teringat akan perempuan waktu itu…
“Oh
ya? Wow aku tak menyangka jika kau menemaniku selama 2 jam waktu itu.” ucap
Zia.
“Haha..
Aku menunggumu Zia. Aku kira kau akan sadar. Tetapi dugaanku salah. Kau tidak
kunjung sadar juga. Hingga aku putuskan terbang ke Aussie untuk M&G
disana…” balas Cody dengan nada penuh penyesalan.
---Zia
POV---
Aku
terdiam. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutku ini. Cody benarkah
itu? Maafkan aku Cody selama ini aku berfikir bahwa kau orang yang angkuh dan
tidak memperdulikan orang lain. Baiklah aku akan mengakhiri semua ini. Aku akan
memulai semuanya dari awal lagi Cody.
“Cody…”
ucapku lirih.
“Ya.
Ada apa Zia?” sahut Cody.
“A-aku..
A-aku…” ucapku tergagap.
“Kenapa
Zia? Ada apa? Apa kau sakit?” jawab Cody sambil menyentuh keningku.
“Oh
tidak, aku sehat.. Aku aku hanya ingin mengatakan—“
“Cody……
Hey Cody…..”
Belum
sempat aku melanjutkan perkataanku ada seseorang yang memanggil Cody. Aku dan
Cody pun melihat ke sumber suara itu. Dan alangkah kagetnya aku ternyata dia—
Dia
adalah perempuan yang aku lihat 2 tahun lalu bersama Cody malam itu. Dan saat
ini dia berada tepat di hadapanku. Dia berjalan menghampiriku dan Cody. Ya dia masih
tetap cantik. Tapi entah kenapa aku merasakan sesak, sesak seperti 2 tahun yang
lalu saat aku melihat mereka berjalan bersama pada malam ulang tahunku.
“Ally,
hey!! Apa kabar kamu? Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu mau kesini hah?” ucap
Cody sambil memeluk perempuan itu.
Aku
tercengang. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. A-aku, a-aku. BRAAKKKKK!!!!!!
Aku menggebrak meja kantin sekolahku ini. Dan itu membuat Cody dan perempuan
itu kaget, dan langsung berbalik memandangku.
“A-ada
apa Zia?” ucap Cody sambil terbata-bata. Perempuan di sebelahnya itu hanya
memandang ke arahku dan dari tatapannya aku membaca ia seolah-olah ingin
mencoba membunuhku.
“Maaf
telah menggangu kalian. Tapi sepertinya aku harus pergi. Cody aku harus
menyusul Alena. Thanks, sudah mau menemaniku istirahat.” ucapku sambil beranjak
meninggalkan mereka.
“Oh
baiklah. Apa perlu aku antar untuk mencari Alena?” suara Cody agak besar karena
aku telah meninggalkannya.
“Ahh
engga tak perlu. Aku bisa sendiri. Daah..” jawabku sambil melambaikan tangan.
Yah Zia marah :( Bagaimana kelanjutannya? Stay tune aja yaa ;Dv
lanjutin dong!!!
ReplyDeletehehe sabar ya :)
ReplyDeletelagi belum ada ide soalnya :D
stay tune aja oke ;)
thank for read O:)