December 31, 2012

Kau yang Terkenang

Thomas, ia lahir di Inggris tepatnya di Birmingham. Kedua orang tuanya adalah warga Negara asli Indonesia. Tetapi 16 tahun silam mereka pergi dan menetap di Birmingham. Pada saat umur Thomas 17 tahun mereka kembali lagi ke Indonesia dengan harapan membangun hidup baru di tanah air tercinta.
***

Pada saat di sekolah.
“Nol, nilai ujianku nol?” Thomas tercekat.

“Ya nilaimu nol. Apa yang harus saya nilai jika kamu menjelaskan England Civil War padahal saya minta kamu menjelaskan perang Bubat?” ucap Bu Semar.

Perkataan Bu Semar terekam begitu nyata dan jernih di dalam pikiran Thomas yaitu “Jangan bicara sampai kamu kenal apa itu Indonesia?”
***

“Apa yang harus kukatakan mengenai Negara Indonesia ini?” ucap Thomas.

Dia buka buku ensiklopedi Sejarah Indonesia dan ia pandangi wajah-wajah yang ada dibuku itu. Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang dan daun-daun masuk melewati sela-sela jendela kamar Thomas. Thomas terbatuk-batuk kehabisan napas. Dan seketika sekelilingnya menjadi gelap dan tak bernyawa.
***

Tubuh Thomas terhempas kesana kemari. Tubuhnya serasa ditarik dan dilempar ke balik pagar tembok yang rendah dan hancur. Gemuruh ledakan bertubi-tubi yang terdengar asing di telinga Thomas terasa seperti setruman listrik yang menyengat nadi. Mulutnya terkunci dan otak Thomas tidak dapat berfungsi dengan normal.

“Hoi, sini kau! Lihat aku dapat England!” terdengar suara seseorang yang berteriak kepada kawannya.

“Apa ini? Journal? Diary?” tanyanya lagi sambil merampas ensiklopedi milik Thomas.

Entah bagaimana caranya saat ini Thomas terdampar di Surabaya tahun 1945. Indonesia tidak pantas diperlakukan seperti kami memperlakukannya sekarang. Sungguh suatu penghinaan apa yang kami lakukan enam puluh tahun kemudian. Bung Tomo dan kawan-kawan siap mati hanya demi mengibarkan bendera merah putih. Sedangkan kami enam puluh tahun kemudian asyik bermain ponsel dan ngobrol sewaktu bendera merah putih dikibarkan saat upacara.

Tak heran Bung Tomo menangis ketika melihat apa yang dilakukannya dan teman-temannya dulu perjuangkan hingga mati berakhir sia-sia di tangan yang salah. Tangan yang tidak bertanggung jawab, dan Thomas merasa dialah yang tidak dapat mengakui kembali darah aslinya.
***

Thomas tercekat, kakinya terpaku dan tangannya membeku melihat seorang tentara Inggris yang sedari kecil ia idolakan dan dia adalah tokoh yang dielu-elukan dalam sejarah Inggris. Tetapi kini di depan matanya ia melihat seorang jendral Inggris yang ia kagumi akan segera membunuh para pejuang Indonesia yang Thomas hormati.

Dengan cepat pisau Thomas telah terhunus pada punggung jendral Inggris itu. Thomas rampas pistolnya dan berlutut tanpa suara dengan pistol berasap di tangannya.

“Atas nama Indonesia enam puluh tahun mendatang, saya ucapkan terimakasih. Kiranya cita-cita Bung Tomo dan kawan-kawan tersampaikan di kemudian hari.” Kata Thomas dan ia menyalami Bung Tomo dengan hormat.
***

Thomas berjalan dan berjalan sesekali ia meraba ensiklopedinya yang ia selipkan di balik celana militernya. Sebuah ledakan pecahnya di dekat Thomas dan ia limbung, jatuh dan memejamkan mata.

“Thomas! Thomas!” sebuah suara yang membangunkan Thomas dari tidur sesaat yang ia alami.

Thomas berdiri dan tertegun melihat dirinya di depan kaca. Tubuhnya terbungkus dengan pakaian militer dengan bercak-bercak darah kering di beberapa bagian tubuhnya. Seisi rumah terdiam seribu bahasa melihat Thomas.

“Sekarang bisa kau jelaskan pada kami bagaimana kamu dapat mengenakan seragam militer kakek moyangmu?” ucap seseorang kepada Thomas.


-The End-

Lagu Untuk Alawy

Kehilangan dirimu membuatku terdiam lemah tak berdaya
Sosokmu begitu berarti di dalam kehidupan kita semua
Ku tak menyangka kau pergi begitu cepat  tinggalkan dunia
Canda tawamu kan slalu tersimpan di benakku ini

Selamat jalan kawan kisah mu kan kunengan
Dan biarkan semua kan jadi kenangan
Yang terindah pernah kita lewati bersama…
slamanya...

Kini sepi diriku tanpa hadir dirimu di setiap hariku
Tubuhmu diam terbujur kaku tak kuasa diriku melihat dirimu
Ku tak menyangka kau pergi cepat tinggalkan dunia
Canda tawamu kan slalu tersimpan di benakku ini

Selamat jalan kawan kisah mu kan kunengan
Dan biarkan semua kan jadi kenangan
Yang terindah pernah kita lewati bersama…
 slamanya.. slamanya

Hamparan cita-cita yang diungkapkan harus terhenti di tengah jalan
Hanya semangatmu lah yang tersisa dalam sanubariku
Kan ku ikhlaskan kepergianmu Dan doaku menyertaimu
Selamat jalan kawanku Alawy Yusianto Putra

Selamat jalan kawan kisahmu kan kunang
Dan biarkan semua kan jadi kenangan
Yang terindah pernah kita lewati bersama

Selamat jalan kawan kisahmu kan kukenag
Dan biarklan semua kan jadi kenangan
Yang terindah pernah kita lewati bersama…
slamanya…

December 29, 2012

Cintaku Tak Semanis Persahabatanku

Hei ;) ini cerpen pertamaku :D

Awalnya ini tugas sekolah -_- Tapi aku coba post disini ;) Hihiw :3

Selamat membaca ;) and i hope u like it (ʃƪ'')♥ 





Hey, perkenalkan namaku Alicia Missy Veronica. Aku sudah kelas 9 Sekolah Menengah Pertama sekarang. Yup, hari ini saatnya aku bersekolah setelah dua minggu libur panjang. Nilai raporku untungnya tidak terlalu jelek. Jadi Papa mengajakku liburan ke Solo, ke kampung halamanku.

Ya sekarang hari Senin dan ini saatnya aku berangkat ke sekolah. Jujur aku sangat ingin liburan lagi, tapi waktu liburanku telah usai. Dan aku sudah rindu sekali dengan sahabatku. Dan juga dia. Dia orang yang aku sayang….
***
“Hei Al…” sapa Caitlin sahabat terbaikku.

Ya Caitlin Natasya Putri. Aku biasa memanggilnya Cat. Haha, ya karena dia suka sekali dengan kucing.

“Hei juga Cat.” jawabku datar.

“Ya ampun Al kamu kenapa? Ini hari pertama kita masuk sekolah loh. Dan kau tau kan kita udah kelas 9 sekarang. YEAY!!!!!” seru Cat dengan girangnya.

“Yayaya, aku tau Cat.” jawabku lagi dengan ekspresi yang masih saja datar.

“Oh ayolah Al, aku tau kamu masih ingin liburan kan? Tapi itu telah usai Al, sekarang kita nikmati saja hari yang telah menunggu kita.”

“Hhmmm, baiklah Cat. Terserah apa katamu lah.” jawabku sambil tersenyum manis.

“Ngomong-ngomong, kamu masuk kelas 9 berapa Al? Ya ampun aku sampai lupa nanya itu kepadamu. Ahahaha.” Cat tertawa dengan bahagianya.

“Ahaha ya itu memang sudah kebiasaanmu Cat. 9A. kalo kamu Cat?”

“Waah Alicia kamu hebat banget. Hhmmm gak salah aku punya sahabat kaya kamu. Udah cantik, manis, ramah pintar pula. Tapi ada satu yang aku gak suka… menyebalkan. Hehehe…” puji nya sambil menggodai ku.

“Ah.. Sudahlah Cat hentikan…” kataku sambil pergi meninggalkan Cat karena aku merasa terhina dia bilang aku nyebelin.

BRUK!!! Auu… Aku menabrak seseorang dan keningku terasa sakit. Aduh sakit sekali. Ternyata itu Rafi Andhika Putra ketua tim basket sekolah kami. Dan ya kau tau kan. Hhmmm dia itu orang yang aku sukai dari pertama kali masuk SMP ini.

“Al kamu gak papa kan?” terdengar suara Cat yang menghampiriku.

“Oh.. Tidak Cat aku gak papa ko..” kataku sambil menjauh dari Rafi orang yang baru saja aku tabrak tadi.

Aduh Al kenapa kau bodoh sekali sih. Ini baru hari pertama kamu sekolah dan kau telah membuat ulah. Aaaa!!!! Seruku dalam hati dan semoga saja tidak ada orang yang mendengar ucapanku.

“Al kamu gak papa kan? Maaf ya tadi aku tidak sengaja menabrakmu aku tidak lihat bahwa kau…..” belum selesai Rafi bicara tetapi aku sudah memotong pembicaraannya.

“Eh tidak Raf, seharusnya aku yang minta maaf. Aku terlalu ceroboh sampai-sampai aku menabrakmu. Ehehe.. Maaf ya Raf.”

“Hhmmm baiklah itu telah berlalu, lagi pula kau tidak apakan?” jawabnya lagi sambil memegang keningku yang terkena dagunya tadi.

Seketika mukaku memerah dan jantungku.. jantungku berdegup kencang. Ya Tuhan kenapa ini?

“A-Aku… Aku gak papa ko Raf. Maaf ya a-aku harus ke kamar mandi sekarang.” kataku tergagap sambil berlari menuju kamar mandi wanita.

Dan Cat, ya Cat adalah saksi bisu antara aku dan Rafi tadi. Aduh aku tidak tau deh apa yang Cat pikirkan tentang kejadian tadi. Aku gugup sangat gugup. Bayangkan saja orang yang aku suka memperlakukan ku begitu baik. Dan dia mengkhawatirkan ku. Aku langsung berlari kencang menuju kamar mandi. Perasaan ku campur aduk antara senang, deg-degan dan tidak karuan.

“Al, Al tunggu….” suara Cat yang terdengar parau karena ia mencoba mengejarku.

Aku berhenti. Aku terdiam. Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibirku ini.

“Kau kenapa Al? Aduh capek banget tau gak sih aku ngejar kamu. Serasa lari marathon tau gak..” jawabnya dengan terbata-bata.

“Maaf Cat….” ucapku singkat dan aku jadi merasa lemas.

“Al aku tau ko. Aku tau apa yang tadi kamu rasakan. Hhmmm itu memang sesuatu yang special bukan? Bayangkan saja Rafi. Rafi ketua tim basket yang kece badai itu menabrakmu, meminta maaf padamu dan, ohh dia memegang kepalamu sayang..” kata Cat panjang lebar tiada jeda dan dia memegang kepalaku persis yang tadi Rafi lakukan.

“Oh please deh Cat. Jangan bicarakan hal itu lagi padaku. Dan ssttttt jangan katakan pada siapapun. Kau mengerti maksudku bukan?” balasku lagi dengan senyum sinis.

“Ohahaha, baiklah My Princess Alicia yang ulala cetar membaha. Ahahaha…..” Cat tertawa lepas dan itu juga membuatku tertawa.

Ya My Princess Alicia, sebutan sayang Cat saat memanggilku. Kami pun tertawa girang kaya orang gila. Ahaha dan ya memang benar kami adalah sepasang sahabat yang gila dan gokil. Lawakan kami pun garing. Tetapi anehnya aku dan Cat itu sering berantem tetapi sehari kemudian kami berteman lagi. Dan itu menyadarkanku bahwa seorang Caitlin Natasya Putri adalah sahabat terbaikku yang tidak akan bisa aku lupakan.
***

Hari ini adalah hari keduaku menjadi seorang siswi kelas 9A di SMPN unggulan Jakarta. Hhmmm masih terekam olehku kejadian hari kemarin dan tepatnya di 9B kejadian semua itu terjadi. Hufftt, aku tidak bisa memprediksikan di hari ini akan terjadi hal apalagi. Apakah lebih baik atau bisa lebih buruk dari hari kemarin. Ya jawabannya akan ada setelah hari ini usai.

Aku berjalan di sepanjang koridor menuju kelas 9A yang letaknya lumayan jauh dari tempatku berjalan ini. Jujur aku merasa sedih kenapa aku harus masuk kelas 9A. Padahal Cat sahabatku ada di 9B.

Cat berkata padaku “Al walaupun kita gak sekelas tapi kita itu masih bisa bersama Al. Saat istirahat, pulang sekolah dan lain-lain” itu kata Cat yang menasehatiku. Ya Cat adalah sahabatku. Sahabat terbaikku. Dan dia bukan hanya sekedar  sahabat untukku. Malah sudah menjadi seperti kakaku sendiri.

“Hei Al, pagi…” terdengar suara cowok yang tidak asing lagi di telingaku.

“Hei Raf, pagi…” sapaku sambil tersenyum manis kepadanya.

“Hehe, rajin sekali kau datang tepat waktu pagi ini.” ledek Rafi dan itu membuatku sedikit kesal.

“Hah, memangnya kenapa? Asal kau tau saja. Aku itu udah capek dihukum terus pas kelas 8 karena aku datang terlambat terus.” seketika aku curcol sama Rafi dan aku tidak tau kenapa kata-kata itu terucap begitu saja dari dalam mulutku.

“Ahaha, itu karena kau sering tidur larut malam Al.” jawab singkat Rafi atas ocehanku tadi.

“Eh…” kataku terheran-heran. “Kau tau darimana aku tidur larut malam?” tanyaku dengan penuh rasa penasaran kenapa Rafi bisa tau semua itu.

“Hhmmm aku melihatmu di timeline Alicia.” jawab Rafi sambil tersenyum manis kearahku.

Ya tuhan, itu membuatku terbang. Ya bagaimana tidak pagi ini dia menyapaku, aku mengobrol dengannya dan dia, dia menyebut namaku Alicia. Wow, ini hari terbaik untukku. Ahaha tapi tunggu. Hei dari mana Rafi tau aku sering muncul di timeline twitter?

“Hah ko kamu tau sih? Ahaha jangan-jangan kau penggemar setiaku di twitter ya? Ahaha LOL” ledek ku dan aku berharap Rafi tidak marah atas ledek kan ku ini. Kalau dia marah, hah habislah sudah harapanku mengenalnya lebih jauh.

“Hah aku penggemar kammu? Bukannya kau ya yang menjadi penggemar ku? Ahaha.” Rafi tertawa sinis kepadaku.

Dan deg seketika aku merasa panas dingin. Ya ampun bagaimana ini. Serasa ada petir yang menyambar kepalaku mendengar ucapan Rafi tadi. Aku bingung harus berkata apa, tak ada sepatah katapun yang keluar dari dalam mulutku ini.

“Hei My Princess Alicia, pagi… Pagi juga Raf” terdengar suara yang memecah keheningan antara aku dan Rafi.

“Hei Caitlin. Pagi… Bagaimana kabarmu hari ini?” sapa Rafi kepada Caitlin.

Ya ampun, Rafi. Rafi menanyakan kabar sama Caitlin? Hah, maksudnya apa ini? Kataku dalam hati. Tak tahu kenapa tiba-tiba hatiku, hatiku terasa sakit mendengar ucapan Rafi itu.

“Hehe, aku baik Raf, Alhamdulillah. Al temani aku yuk. Aku perlu ngomong sesuatu sama kamu…” kata Cat menghampiriku.

Aku tersenyum kearah Cat dan mengangguk tanda setuju aku akan menemani dia. Aku melihat kearah Rafi dan dia tersenyum juga. Tapi bukan tersenyum kepadaku melainkan kepada Caitlin. Aku lihat tatapan matanya. Dan, ya ampun aku melihat tatapan matanya itu sama seperti dia menatap Shabina. Ya Shabina adalah orang yang sangat di sayangi Rafi. Tapi dia pindah sekolah ke luar negeri saat kenaikkan kelas kemarin.

Rafi menatap Caitlin sama saat dia menatap Shabina. Deg.. Apakah, apakah Rafi punya perasaan dengan sahabatku Cat? Apa yang harus aku lakukan. Seketika air mataku jatuh walau hanya setitik. Tapi aku segera menghapus air mataku agar Caitlin dan Rafi tidak tahu bahwa aku sedang menangis.
***

“Al aku perlu bicara sesuatu padamu.” kata Cat. Dan kami sedang ada di kamar mandi sekarang.

“Hhmmm ya Cat ada apa…?” jawabku sambil mencuci muka. Aku tidak mau Caitlin sahabatku melihat air mata penuh sakit ini.

“Al, aku a-aku…”

“Kenapa Cat? Ayo bicaralah. Jangan tergagap gitu dong ah. Ahaha…” jawabku sambil tertawa tetapi aku juga penasaran apa yang akan Caitlin katakan.

Caitlin tarik napas dan dia bicara lagi..

“Semalam aku ditembak sama Rafi Al. Tapi sungguh aku tidak bermaksud menyakitimu dengan mengungkapkan hal ini. Aku, aku juga tidak tahu Al harus berbuat apa.” suara Caitlin yang terdengar bergetar saat mengucapkan kata-kata itu. Dan dia, dia menangis…

“Hhmmm sudahlah Cat aku juga sudah tau ko. Ehehe. Terus apa yang kau katakan pada Rafi?” jawabku tersenyum. Aku mencoba tersenyum walaupun hatiku ini terasa begitu sakit mendengar ucapannya.

“Aku bilang padanya bahwa Alicia suka padamu Raf. Sahabatku sahabat terbaikku suka padamu. Kenapa kamu malah suka denganku Raf….” belum sempat Caitlin melanjutkan bicaranya itu terdengar suara dari luar kamar mandi.

“Itu karena aku suka padamu Caitlin. Apa aku salah menyukaimu?”

Aku dan Cat saling berpandangan. Dan kami langsung membuka pintu kamar mandi untuk keluar melihat siapa yang sedari tadi menguping pembicaraan kami. Alangkah kagetnya aku ternyata itu Rafi.

“Aku menyukaimu Caitlin. Dan bukan hanya suka, melainkan aku sayang kepadamu.” ucap Rafi

“Tapi itu tidak mungkin Rafi. Alicia, Alicia menyukaimu sejak pertama masuk SMP ini. Kenapa kau tidak menyukainya saja!” terdengar ucapan Caitlin satu oktaf lebih tinggi dari biasanya.

“Ya itu karena aku hanya menganggap Alicia sebagai temanku. Aku mempunyai perasaan lebih ke kamu Caitlin.” ucap Rafi dengan nada tinggi juga seperti Caitlin.

JEDAARRRR!!!!! Serasa ada petir yang menyambarku di pagi hari yang cerah ini. Rafi, kenapa kau tega sekali berkata seperti itu. Aku menyukaimu Rafi, aku sayang padamu Rafi. Rasanya aku ingin berteriak padanya tentang perasaanku ini.

Tapi aku harus mengendalikan egoku. Ini situasi genting antara kami bertiga. Caitlin dan Rafi sedang memanas. Caitlin membelaku bahwa seharusnya Rafi menyukaiku tapi Rafi berkata bahwa dia hanya menganggapku teman dan tidak lebih. Aku sedikit kesal sebenarnya tapi, aku tidak boleh egois.

“Hhmmm Cat sudahlah. Aku tidak apa ko. Rafi menyukaimu dan dia sangat menyayangimu. Dia selalu bercerita tentangmu Cat. Maaf aku tidak memberitahumu tentang ini. Karena awalnya aku ingin membuat kejutan. Eh, ternyata di luar dugaan Rafi telah mengungkap semuanya tanpa memberitahuku. Ehehe. Ayolah Cat terima Rafi.” ucapku panjang lebar dan itu semua hanya omong kosong yang aku buat demi melihat mereka bersatu.

“Tapi Al kau kan…” kata Caitlin.

“Ehehe aku udah gak suka sama Rafi. Lagi pula aku sudah jadian sama Nico. Kau tau Nico kan? Hehe…” ucapku lagi.

“Kamu serius Al? Kenapa kamu gak bilang sama aku kalo kamu udah jadian sama Nico?”

“Hehe maaf Cat. Tapi aku udah bilang kan sekarang..” canda ku kepada Cat.

“Ah kau ini….” ucap Cat kesal karena aku tidak memberitahunya.

“Hhhmmm Cat jadi kita…..” ucap Rafi.

“Jadi kalian itu udah resmi pacaran. Yeay!!!!” ucapku dengan gembira.

“Ah kau ini Alicia. Jangan begitu aku jadi malu..” ucap Caitlin dan mukanya memerah.

“Ehehe selamat ya RafCa.. Rafi Caitlin.. Ahaha” kataku sambil memeluk Caitlin sahabatku.


-THE END-

Cinta yang sebenarnya adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata "aku turut berbahagia untukmu wahai SAHABATKU"