Thomas, ia lahir di Inggris tepatnya di Birmingham. Kedua orang tuanya adalah warga Negara asli Indonesia. Tetapi 16 tahun silam mereka pergi dan menetap di Birmingham. Pada saat umur Thomas 17 tahun mereka kembali lagi ke Indonesia dengan harapan membangun hidup baru di tanah air tercinta.
***
Pada saat di sekolah.
“Nol, nilai ujianku nol?” Thomas tercekat.
“Ya nilaimu nol. Apa yang harus saya nilai jika kamu menjelaskan England Civil War padahal saya minta kamu menjelaskan perang Bubat?” ucap Bu Semar.
Perkataan Bu Semar terekam begitu nyata dan jernih di dalam pikiran Thomas yaitu “Jangan bicara sampai kamu kenal apa itu Indonesia?”
***
“Apa yang harus kukatakan mengenai Negara Indonesia ini?” ucap Thomas.
Dia buka buku ensiklopedi Sejarah Indonesia dan ia pandangi wajah-wajah yang ada dibuku itu. Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang dan daun-daun masuk melewati sela-sela jendela kamar Thomas. Thomas terbatuk-batuk kehabisan napas. Dan seketika sekelilingnya menjadi gelap dan tak bernyawa.
***
Tubuh Thomas terhempas kesana kemari. Tubuhnya serasa ditarik dan dilempar ke balik pagar tembok yang rendah dan hancur. Gemuruh ledakan bertubi-tubi yang terdengar asing di telinga Thomas terasa seperti setruman listrik yang menyengat nadi. Mulutnya terkunci dan otak Thomas tidak dapat berfungsi dengan normal.
“Hoi, sini kau! Lihat aku dapat England!” terdengar suara seseorang yang berteriak kepada kawannya.
“Apa ini? Journal? Diary?” tanyanya lagi sambil merampas ensiklopedi milik Thomas.
Entah bagaimana caranya saat ini Thomas terdampar di Surabaya tahun 1945. Indonesia tidak pantas diperlakukan seperti kami memperlakukannya sekarang. Sungguh suatu penghinaan apa yang kami lakukan enam puluh tahun kemudian. Bung Tomo dan kawan-kawan siap mati hanya demi mengibarkan bendera merah putih. Sedangkan kami enam puluh tahun kemudian asyik bermain ponsel dan ngobrol sewaktu bendera merah putih dikibarkan saat upacara.
Tak heran Bung Tomo menangis ketika melihat apa yang dilakukannya dan teman-temannya dulu perjuangkan hingga mati berakhir sia-sia di tangan yang salah. Tangan yang tidak bertanggung jawab, dan Thomas merasa dialah yang tidak dapat mengakui kembali darah aslinya.
***
Thomas tercekat, kakinya terpaku dan tangannya membeku melihat seorang tentara Inggris yang sedari kecil ia idolakan dan dia adalah tokoh yang dielu-elukan dalam sejarah Inggris. Tetapi kini di depan matanya ia melihat seorang jendral Inggris yang ia kagumi akan segera membunuh para pejuang Indonesia yang Thomas hormati.
Dengan cepat pisau Thomas telah terhunus pada punggung jendral Inggris itu. Thomas rampas pistolnya dan berlutut tanpa suara dengan pistol berasap di tangannya.
“Atas nama Indonesia enam puluh tahun mendatang, saya ucapkan terimakasih. Kiranya cita-cita Bung Tomo dan kawan-kawan tersampaikan di kemudian hari.” Kata Thomas dan ia menyalami Bung Tomo dengan hormat.
***
Thomas berjalan dan berjalan sesekali ia meraba ensiklopedinya yang ia selipkan di balik celana militernya. Sebuah ledakan pecahnya di dekat Thomas dan ia limbung, jatuh dan memejamkan mata.
“Thomas! Thomas!” sebuah suara yang membangunkan Thomas dari tidur sesaat yang ia alami.
Thomas berdiri dan tertegun melihat dirinya di depan kaca. Tubuhnya terbungkus dengan pakaian militer dengan bercak-bercak darah kering di beberapa bagian tubuhnya. Seisi rumah terdiam seribu bahasa melihat Thomas.
“Sekarang bisa kau jelaskan pada kami bagaimana kamu dapat mengenakan seragam militer kakek moyangmu?” ucap seseorang kepada Thomas.
-The End-
No comments:
Post a Comment